Waduh.!!! Proyek BWS NT-1 di Bima Adalah Proyek Hanya Atas Nama

Kok Polisi dan Jaksa Bungkam!!!


Bima, Gerbang Timur,- Proyek Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara-1 yang ada di Kabupaten Bima terindikasi proyek hanya Atas Nama saja yang di kerjakan oleh rekanan-rekanannya, ada dugaan bahwa proyek-proyek tersebut adalah proyek AN semata yang sampai hari ini selalu ada masalah. Proyek Tahun Anggaran 2017 sebanyak Rp.17 Milyar itu dikerjakan oleh pihak rekanan yang berinisial CN sampai hari ini belum terlihat hasil yang maksimal. Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya pada saat dikonfirmasi oleh Media Gerbang Timur di kediamannya Senin (11/12) bahwa proyek BWS yang ada di Kecamatan Monta Desa Tangga dan Kecamatan Woha Desa Waduwani, Desa Tenga dan Desa Risa sampai hari ini belum bisa dinikmati oleh masyarakat, dengan alasan pengaliran air menuju Desa Waduwani sampai ke Desa Risa tidak ada sampai hari ini.

Dalam spesifikasi proyek tersebut yakni untuk normalisasi alur sungai DAM Pela Parado yang ada di Kecamatan Monta Desa Pela sesuai hasil penelusuran kami, terdapat beberapa item pekerjaan yang tidak dikerjakan secara maksimal oleh CN. Bahkan parahnya lagi, pengerjaan tersebut dibagikan ke kontraktor kecil yang ada di Bima dan tanpa melalui mekanisme yang jelas. Ini semua karena  ulahnya Asdin sebagai kepala BWS yang tidak mau mengontrol kinerja rekanan-rekanannya, bukan hanya duduk berpangku tangan dan angkat kaki di kantor saja, dia harus mempertanyakan keadaan proyek tersebut. Dan hal ini sudah jelas masalah besar yang dilakukan Asdin, tegasnya.

Item pengerjaan bermasalah yang ditemukan di beberapa lokasi proyek tersebut, yakni di Desa Tangga, terkait dengan pengerukan drainase yang tidak maksimal oleh pihak rekanan. Terlihat pengerukan tersebut tidak memenuhi standar yang sudah tertuang dalam perjanjian kontrak. Alasannya bahwa lantai dasar drainase seharusnya dibuat ulang namun tidak dikerjakan oleh rekanan CN. "Saya menilai ada banyak masalah terkait proyek normalisasi ini, termasuk pengurangan spesifikasi juga" ungkap nya.

Selain itu, Item normalisasi bermasalah ditemukan juga di Desa Tenga, lebih kurang hampir 1 Kilometer tidak dilakukan normalisasi oleh pihak rekanan CN. Justru hal ini berdampak pada pengaliran air yang menuju Desa Waduwani dan Desa Risa. Padahal proyek normalisasi ini dilakukan untuk memaksimalkan pengairan persawahan warga di dua Kecamatan yakni Kecamatan Monta dan Kecamatan Woha. ”Kami butuh air yang maksimal untuk sawah kami, kok pihak rekanan kerja kok main-main dalam mengerjakan proyek ini.

Terkait Masalah yang ada di Desa Waduwani juga terdapat puluhan kontraktror ngesub pekerjaan normalisasi tersebut. Dugaan kuat, bahwa tidak ada kontrak kerja yang dilakukan pihak rekanan pemenang tender dengan pihak ngesub. Hasil pengerjaan tersebut tidak jelas. ”Kami tidak akan tinggal diam dalam masalah ini, intinya dalam waktu dekat, rekanan itu harus berada di balik jeruji.

Di Desa Risa, kasusnya hampir sama dengan Desa Waduwani, ada beberapa oknum kontraktor yang ngesub pengerjaan tersebut. Bahkan menurut informasi ada oknum LSM yang ikut terlibat membackup pekerjaan tersebut, ”harusnya ini jadi pintu masuk pihak Kejaksaan dan Kepolisian untuk melakukan penyelidikan dugaan proyek bermasalah tersebut,” terangnya.

HR menduga adanya korupsi berkelompok yang terjadi pada proyek BWS ini. Perlu diketahui, bahwa proyek BWS untuk normalisasi alur irigasi DAM Pela Parado ini sudah dilirik oleh pusat sejak Tahun Anggaran 2015 dan 2016. Namun tetap saja proyek tersebut di Anggarkan pada tahun 2017 sementara pekerjaan dari tahun 2015-2016 belum begitu tuntas. Keberadaan  proyek BWS di Bima selalu ada masalah. Ternyata dugaan kuat bahwa Kepala BWS Propinsi NTB Asdin Zuliadin ada permainan dalam menggelontorkan anggaran Milyaran tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dengan konco-konco terdekatnya dan belum pernah ada orang lain yang mengerjakan proyek-proyek BWS kecuali beberapa orang- orang dekat kepala BWS saja" ungkapnya.

Kami mendapatkan informasi dari beberapa data dari orang dalam BWS bahwa Pak Asdin lah yang mengatur proyek normalisasi tersebut, namun di Bima digunakan pihak rekanan yang sudah dipercaya olehnya.

Dugaan masalah ini sudah beberapa kali dilaporkan oleh LSM akan tetapi tidak pernah  menjerat mafia-mafia proyek ini. Insya Allah dalam waktu dekat ini kami yang tergabung dalam Pemuda dan Mahasiswa Bima Bersatu (PMBM) akan menyuarakan dan sekaligus melaporkan kembali ke Kejati NTB kasus yang selama ini mandek, agar semua oknum yang terlibat dalam masalah ini akan secepatnya ditangkap dan diadili.

Sementara itu, beberapa waktu lalu wartawan Gerbang Timur memantau Kepala BWS NTB Asdin Zuliadin datang ke Bima untuk melihat kembali proyek-proyek yang bermasalah tersebut, namun itu sudah tidak ada lagi fungsinya dan kenapa dari dulu tidak dilakukan perbaikan, kok setelah membaca berita baru asdin turun. Wartawan Gerbang Timur pernah menghubungi via SMS dan Telpon ke Pak Asdin selaku kepala BWS namun tidak pernah di gubris. Hanya CN yang sudah dikonfirmasi melalui via telpon. (Imam)

No comments

Powered by Blogger.