-->

Akademisi Minta Bupati Evaluasi Kinerja Kabid Bawa Golok

Fadlin Guru Don, M.Pd
Bima, Gerbang Timur,- Sikap Premanisme yang diperlihatkan Oknum Kabid Perpustakaan Basyirun, M.Pd mendapatkan sorotan dari Akademisi Mercua Buana-Jakarta, Fadlin Guru Don , M.Pd. Dosen Muda ini meminta Bupati Bima, Hj. Indah Damayanti Putri untuk segera mengevaluasi hasil kinerja oknum Pejabat tersebut.

Fadlin menegaskan, Ulah Kabid tersebut sangat memalukan, apalagi sudah menjadi viral di Media Sosial. Jika demikian, Bupati harus menunjukan sikap tegas agar tidak ada lagi aksi memalukan yang mencoreng nama baik pemerintah kabupaten. "Saya khawatir ada yang tidak beres sehingga harus bertindak represif dan mengancam dalam meminta jatah seperti itu. Jika dibiarkan, ini akan menjadi isu yang tidak mendidik dan akan menjadi contoh tidak baik bagi pejabat lainnya," tegasnya.

Lanjutnya, Pejabat itu harus harus menunjukan kedewasaan dalam bersikap dan mencari solusi dalam menyelesaikan persoalan internal. Mental seperti itu akan mempengaruhi kinerja dan target kerja yang direncanakan, "Akan ada dampak jika mental seperti itu diberi jabatan pada posisi strategis. Ketika Slogan Bima ramah dibanggakan justru bawahan Bupati tidak ramah," sorotnya.

Dosen kelahiran Bima ini juga menduga adanya ketimpangan dalam Dinas Perpustakaan dan Kearsipan jika sudah seperti itu. "Kok ada jatah-jatahan. Sepertinya penggunaan anggaran itu tidak direncanakan secara detail sehingga ada keributan," tambahnya.

Fadlin menilai, Pemerintah Kabupaten Bima sepertinya banyak terisi oknum pejabat bertipikal preman, bukan lagi berdasarkan pada kompetensi dan integritasnya. “Pemerintah Kabupaten Bima Sepertinya banyak terisi oleh pejabat yang yang berwatak Preman, kejadian seperti ini bukan terjadi di satu instansi saja tetapi ada instansi-instansi lain yang memiliki kasus serupa. Inilah akibat dari pengangkatan pejabat yang berdasarkan pada politik balas jasa, sehingga tidak mengutamakan keahlian dan integritas moralnya, padahal moral adalah bingkai kecerdasan apapun sehingga pejabat bisa bersikap arif dan tanpa melawan norma” Jelas Fadlin.

Menurutnya, lebih mengherankan lagi, Bupati Bima masih memelihara pejabat yang bertabiat preman seperti itu, yang seharusnya tidak ada lagi di tengah masyarakat yang sudah cerdas seperti sekarang ini.

Premanisme sebenarnya lahir pada zaman penjajahan Belanda dan pada mulanya tidak berkonotasi negatif. Karena di masa lalu, preman (vrije man) adalah pelindung masyarakat dari tindakan sewenang-wenang kaki tangan penjajah, "Sangat aneh kalau praktek-praktek peremanisme harus diterapkan saat ini apalagi untuk merebut uang jatah," terangnya.

Bima sudah terkenal dengan penyakit sosial yang tak terurai, jangan ada lagi pejabat publik yang memperlihatkan tindakan tak bermoral lagi.
“Cukuplah Bima sudah terkenal dengan Perkelahian, peperangan antar kampung dan penyakit sosial lainya, jangan ada lagi pejabat yang yang mempertontonkan sikap yang sama, kalau pemerintah seperti ini modelnya, lantas siapa lagi yang akan menyelesaikan rentetan persoalan yang ada”. Tuturnya.

Alumni salah satu PTS Makasar ini menyayangkan sikap Basyirun yang sesuai dengan tingkat pendidikannya, padahal semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin membuat orang itu semakin bijak, sehingga cara berpikir, tingkah laku dan tutur katanya menjadi ilmu bagi orang lain. "Harusnya dia menjadi teladan untuk bawahannya di kantor itu. Justru dia yang menampakan sikap tidak baik. Sikap itu jelas melanggar aturan pemerintah termasuk melanggar hukum karena membawa Senjata Tajam," imbuhnya.

Kelemahan lain menurut Fadlin, Minat baca masyarakat Bima masih sangat rendah dibandingkan daerah-daerah lain, maka perpustakaan harusnya menjadi magnet terkuat untuk mengajak masyarakat termotivasi untuk membaca. Pemerintah pusat sudah membuat program Gerakan Literasi. Pemerintah Kabupaten Bima dapat menjemput program ini dengan positif sehingga dapat membantu masyarakat dalam memperkaya literasi, bukan justru memperlihatkan sikap serakah.

Menurut Fadlin, insiden yang terjadi di instansi perpustakaan tersebut tidak memberikan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat, justru terkesan sebagai panggung untuk saling membagi uang jatah. "Saya berharap agar kasus seperti ini tidak ada lagi. Semuanya tergantung Bupati Bima yang menempatkan orang hebat dan cerdas untuk membangun daerah," tutupnya. (Ryan)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Akademisi Minta Bupati Evaluasi Kinerja Kabid Bawa Golok"

  1. Pak Basyirun masih kurang Kecerdasan Emosional Dalam KepemimpinanNya.

    ReplyDelete
  2. Tidak boleh begitu dalam instansi pemerintasan, kalau mau bawa golok sana ke pasar potong sayur, ke gunung cari kayu.

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel