-->
SEBUAH OPINI.
(ARIEF GUNAWAN)




Dulu waktu kecil di tempat ini kami biasa melihat warga berdatangan dengan beberapa barang untuk "tohora dore" yang menurut mitos masyarakat bahwa disini tempat peleburan "prafu" setelah melakukan beberapa kegiatan dan do'a sebagian barang2 bawaan di lempar ke laut dan kami berbondong2 menyelam berebut yg di hanyutkan itu...
Dan sekarang seolah kebiasaan, tradisi dan adat istiadat itu seolah dilupakan dan tempat ini tidak lagi terawat.
Namun mesti tempat ini tak lagi terawat dengan baik dan di lupakan tapi tetap ramai dan kami senang untuk mendatangi tempat ini, bukan karna ada laut dan pantai tapi memang seolah2 ada sesuatu yang menarik untuk kesini....

Tidak menutup kemungkinan bahwa pengambilan nama Tadewa sebagai nama kampung kecil ini merupakan resprepentasi dari tempat sesembahan "Prafu Pusu" itu sendiri. Jika kita artikan kata perkata dari Tadewa, TA ( BAHASA BIMA) mengantung arti mengajak dan DEWA Berarti sesembahan. Jadi Tadewa adalah mengajak untuk menyembah.

Ini perlu kita analisis dan melakukan penelitian tentang asal muasal dari PUSU dan TADEWA itu sendiri. Bagaimana tidak, berdasarkan kajian dari seorang sejarahwan asal Wera sendiri DR. BUKHARI FAKKAH S.Pd M.Pd yang beliau sampaikan pada saat menjadi narasumber dalam dialog kebudayaan Dana Wera yang diadakan oleh HIMPUNAN MAHASISWA WERA BIMA-MAKASSAR (HMW) Beberapa tahun yang lalu. Beliau menguraikan bahwa ada 6 (enam) desa yang menjadi desa induk sehingga terbentuknya komunitas wera pada masa itu sebelum lahirnya desa-desa yang lain di kecamatan Wera. Dari keenam desa tersebut Tadewa adalah salah satunya...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to " "

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel