-->

Dialog Public HMW Optimalisasi Peran Perempuan sebagai Rahim Peradaban di Era Milenial

Dialog public

Fenomena-fenomena peran perempuan yang kurang di lingkungan baik kelompok, sosial dan kemahasiswaan sehingga menjadi dasar kami mengangkat kegiatan ini. Ketua Umum HMW Abd. Furad.

Peran perempuan selalu menjadi fokus utama dalam setiap diskusi dan seminar yang ada, meskipun sampai saat ini belum jelas terpecahkan di manakah posisi kaum Hawa itu bisa disejajarkan dengan kaum Adam.

Perempuan tidak selamanya berada di bawah naungan laki-laki akan tetapi perempuan dan laki2-laki sejajar untuk mendapatkan tempat yang semestinya dalam lingkul sosial, ujar ketua panitia pada saat menyampaikan laporan.

Jika kita membaca sejarah akan menjadi konsumsi kita secara keseluruhan bahwa tidak ada satupun Nabi yang diturunkan oleh Allah SWT di muka bumi ini berjenis kelamin perempuan, meskipun tidak ada larangan yang tegas dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin, tetapi ada kiasan-kiasan yang selalu menempatkan untuk mentahwil ayat-ayat tersebut.

Amerika Serikat di era modernisme sebagai negara kampiun demokrasi misalnya, tidak ada satupun dari kaum hawa yang menjadi presiden karena secara entitas politik bagi masyarakat Amerika justru menolak. Tetapi malah didorong di negara-negara yang penduduknya bermayoritas Islam untuk mengambil alih kepemimpinan dari kaum hawa.

Ada diskursus yang harus dibedah lebih mendalam lagi karena era milenial dalam konstruksi ekonomi adalah era kreatifitas. Untuk menguji daya kreatifitas kita di era milenial maka kita harus masuk pada wilayah-wilayah yang sangat kreatif, perkembangan era milenial kita tidak boleh menunggu, kita harus mulai menunjukan kreatifitas kita, terlebih lagi bagi kaum hawa, ujar Dr. Bukhari Fakkah S.Pd M.Pd dalam sambutannya.

Berbicara tentang peran perempuan maka kita akan berbicara tentang bagaimana kemudian perempuan memposisikan dirinya di tengah masyarakat modern yang semakin kompleks ini.

Dari ketiga narasumber yang ada mereka masing-masing menguraikan tentang peran perempuan ini dengan sudut pandang yang berbeda. Panelis pertama saudari Suhaida S.Pd menguaikan sudut pandangnya dari segmentasi perempuan dalam Agama dan kebudayaan, menurut beliau kita perlu kembali menengok sejarah bahwa perempuan dalam Aspek agama dan budaya kita akan belajar dari Khadijah sampai ke Fatimah Azzahra Sebagai perempuan yang menjadi rahim peradaban. Kita harus mampu belajar dari sejarah yang ada agar perempuan mampu menciptakan  peradaban melalui keterlibatannya di ranah publik/politik, menjadi ibu rumah tangga pun harus mampu membangun peradaban perempuan sebagai istri dan ibu. Jika kita melihat dari sudut pandang budaya Bugis misalnya, perempuan itu diibaratkan sebagai emas yang harus dijaga dan dirawat agar tidak tercedarai kehormatannya karena jika kehormatan perempuan tercedarai maka keluarga pun ikut tercedarai.

Narasumber kedua Suhaida S.Pd menguraikan dari sudut pandang pendidikan. Di era milenial ini perempuan sudah leluasa mengupdate tentang pendidikan tetapi yang menjadi persoalan apa yang ingin dilakukan perempuan dengan melewati proses pendidikan? Suhaida juga menambahkan bahwa ibu sebagai madrasah pertama seorang anak. Kalaupun kita melihat juga dari sudut pandang public bahwa ruang gerak perempuan ini seolah dibatasi dengan kuota perempuan dalam birokrasi hanyalah 30% saja.

Perempuan harus mampu membaca peradaban. Keberkahan atas keleluasaan meraih pendidikan dan karir bagi perempuan untuk kemudian menghadirkan diri sebagai rahim peradaban. Antara wilayah publis/domestik perempuan harus membekali dirinya dengan konsep diri yang mumpuni, perempuan sebagai manusia atau perempuan sebagai perempuan itu sendiri sehingga perempuan mampu memahami dirinya sebagai manusia beradab.

Narasumber ketiga Muhammad Akbar ARJ menguraikan memahami perempuan dengan rasa laki-laki sebab memahami laki-laki memahami manusia begitupun sebaliknya laki-laki dan perempuan merupakam dualitas yang tak terpisahkan. Perilaku kita hari ini merupakan warisan, Fatimah diwarisi Muhammad, Ismail diwarisi Ibrahim dan begitupun seterusnya.

perempuan haruslah dididik dengan baik agar semangat belajarnya tetap terbangun. Perempuan yang beradab adalah perempuan yang senantiasa hidup dengan tradisi, agama, adat istiadat dan juga hukum yang jelas dan itu kita temukan hanya di desa, kita masuk kota seharusnya kita ini mengepung kota dan membentuk peradaban di kota. Kita melihat sejarah meneladani Fatimah, Aisyah, Maryam dan Khadijah, perempuan berkualitas harus dicari dan dibangun bukan untuk ditunggu turun sendiri dari langit.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dialog Public HMW Optimalisasi Peran Perempuan sebagai Rahim Peradaban di Era Milenial"

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel