-->

Merasa di Rugikan, PT. STM Akan Laporkan PT. AMNT ke Pengadilan Niaga



Mataram" Gerbang Timur Bima.- PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) kembali berulah, masalah tersebut mencuat pada persoalan pembelian barang bekas antara perusahaan berlabel bendera lokal STM dengan PT. AMNT dan PT. Newmont NTB tahun 2016 lalu.

Budi Hariyanto selaku pemilik barang menyayangkan sikap PT. Newmont yang belum juga beritikad baik untuk melakukan proses pengangkutan barang sampai hari ini. Selaku perusahaan yang memenangkan tender belum juga diberikan haknya untuk mengangkut, ungkapnya pada saat wawancara bersama awak media di Mataram bertempat di Lesehan Dapur kita JL. Udayana Kota Mataram. Rabu, (14/11/2018)

Menurut Keterangan Budi Hariyanto bahwa Pihaknya sudah membayar lunas barang tersebut sejak Desember 2015.

"Melalui PT. STM kami membuat kesepakatan dengan PT. Newmont untuk membeli barang bekas dengan jenis grinding ball bekas, general scrap, kabel bekas, conveyor belt bekas yang tertuang dalam kontrak nomor SA 1503/001 tertanggal 1 Desember 2015. Terdapat klausul tambahan bahwa batas akhir kesepakatan tersebut adalah tanggal 30 Juli 2017. Kemudian setelah PT. NNT diakuisisi oleh PT. AMNT perjanjian tersebut tetap berlaku sehingga material barang bekas beralih tanggung jawab ke PT. AMNT," Cetusnya.

Setelah ada kesepakatan, saya membeli barang bekas dengan kuantitas 7000 Ton seharga Rp. 1.100 per kilogram. Nilai total harga jual sebesar Rp. 7.892.500.000. Setelah saya lunasi, saya melakukan pengangkutan bertahap. Pengangkutan pertama tahun 2016 untuk 4,553 Ton dengan harga barang sebesar Rp. 5.134.1.333.263. Tersisa barang bekas sebanyak 2,446 Ton dengan nilai Rp 2.758.366.263 yang akan saya angkut berikutnya di tahun 2017. Namun saat akan mengangkut, saya menerima surat dari PT. AMNT tanggal 14 Mei 2018 yang terkesan menghalangi upaya pengangkutan 
barang bekas sisa tahap kedua. Dalam surat tersebut pihak PT. AMNT berpegang pada perjanjian bahwa kontrak berakhir tanggal 30 Juli 2017," ungkapnya.

Saat saya akan mengambil barang di tahun yang sama melalui PT. STM, tiba-tiba pihak perusahaan menyampaikan berbagai alasan. Melalui email yang diterima tanggal 14 Mei 2018 pihak PT. AMNT justru memberikan opsi berbeda. Pertama, PT. AMNT menawarkan uang sebesar Rp 2,7 Milyar kembali dengan utuh plus bunga deposito per tahun. Opsi kedua sisa barang bekas yang belum diangkut sebanyak 2,4 Ton tetap bisa diambil dengan syarat pihak PT. STM bisa menunjukkan dokumen yang diperlukan untuk pengangkutan seperti Izin Pemuatan Barang (IPB).

Pada penutup surat, PT. STM diberi batas waktu sampai 28 Mei 2018 untuk menyatakan sikap. Jika tidak ada respon, maka dianggap memilih opsi pertama yaitu uang dikembalikan. Walaupun diberikan opsi, saya akan tetap mengirim kapal untuk mengangkut barang. Namun hingga tanggal 10 November 2018 upayanya mengangkut barang dihalang halangi bahkan dicegat oleh security PT. AMNT. 

Akibat gagal mengangkut material tersebut, saya merasa dirugikan secara moril dan materiil. Saya harus menanggung rugi sewa kapal sebesar Rp. 490 Juta, belum harus membayar maintenance dan ABK. Belum lagi harus membayar biaya sandar kapal sebesar Rp. 25 juta per hari selama 12 hari. Kapal terpaksa saya kembalikan kosong untuk itu saya berencana menaikkan kasus ini ke pengadilan Niaga dengan semua bukti yang ada, Pungkasnya. (GT/02)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Merasa di Rugikan, PT. STM Akan Laporkan PT. AMNT ke Pengadilan Niaga"

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel