-->

Kemelut Ekonomi Kreatif, Desa Tadewa Dalam Pusaran Ekonomi Kreatif

Foto : Arif Gunawan Putra Tadewa

Oleh : Arief Gunawan  

Membangun Indonesia dari desa salah satu alasan hadirnya Dana Desa yang sampai hari ini cenderung menjadi polemik dan kemelut. Revolusi mental menjadi dasar pijakan sehingga perlu membangun ekonomi kreatif,

lalu sampai dimanakah revolusi mental?

Tadewa adalah sebuah desa kecil yang ada di kecamatan Wera Kab. Bima NTB yang sedang belajar hidup mandiri ditengah arus globalisasi yang kian menggerus peradaban dan budaya yang ada,

lalu dimanakah tempatnya revolusi mental??

Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Ide dan gagasan cenderung kearah perubahan, perubahan cenderung pada perbaikan, lalu Tadewa? BUMDES merupakan usaha desa yang dikelola oleh Pemerintah Desa, dan berbadan hukum. Pembentukan Badan Usaha Milik Desa ditetapkan dengan Peraturan Desa. Kepengurusan Badan Usaha Milik Desa terdiri dari Pemerintah Desa dan masyarakat desa setempat.

BUMDesa merupakan pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial (social institution) dan komersial (commercial institution). Empat tujuan penting pendirian BUMDesa adalah:

1.Meningkatkan Perekonomian Desa
2.Meningkatkan Pendapatan asli Desa
3.Meningkatkan Pengelolaan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat
4. Menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa.
Dimanakah Tadewa dalam pusaran ekonomi kreatif ini?? Sudahkah Tadewa menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan

revolusi mental??

Tadewa harus mulai membenahi diri, perlu adanya kesamaan visi dari setiap kepala yang ada, semangat kebersamaan dan gotong royong harus kembali pada porosnya. Dari 4 tujuan penting pendirian BUMDES menitik beratkan kesadaran pemerintah dan masyarakatnya, pemerintah harus mulai terbuka dan menerima kritikan dan masukan dan masyarakatpun harus berani memberikan masukan dan kritikan, masyarakat tidak boleh lagi apatis terhadap keadaan Desa. Tadewa tidak boleh terlena dengan modernisasi, kita tidak juga menolak modern namun modernisasi harus rasionalisasi bukan westernisasi, revolusi mental harus menjadi titik balik peradaban tapi bukan berarti hilang nilai dan identitas daerah.

Melalui konsep BIMA RAMAH Tadewa harus bisa menetralisir revolusi mental yang kecendrungan kearah pembangunan ekonomi kapitalis, pembangunan ekonomi Tadewa harus berbasis nilai kearifan, berbasis agama.

Kearifan tradisional pembenahan visi budaya yang telah terkikis (mbolo ro dampa), berbasis agama merupakan pembenahan Aqidah agar manusia-manusia tetap berada dalam poros manusiawinya. Rutinitas-rutinitas keagamaan harus terus dibenahi agar kita tidak menjadi masyarakat yang apatis dan konsumtif. Jika rutinitas keagamaan sudah rusak itu tandanya Aqidah sudah rusak, maka jangan bermimpi untuk mendapatkan sebuah keadilan, Karena keadilan tidak sekaku yang kita pahami dalam sila pancasila namun keadilan itu hadir dari diri, dari aqidah yang baik dan benar. Negara kita bukan kekurangan orang cerdas namun terlalu banyak pembohong yang bergentayangan di Negeri ini. Dimana Pancasila dan Agama sudah menjadi jualan politik bukan pijakan politik. Yang satu teriak mereka paling pancasilais dan yang satu teriak mereka paling agamais. Namun mereka tidak tau bahwa Negara ini di bangun dengan Intelektualitas kaum agamais dan pancasilais. Pancasila dan Agama adalah ruh Republik bukan milik satu golongan, Pancasila dan Agama harus mengalir dalam setiap nadi dan nafas manusia Indonesia. Pancasila adalah warisan jenius Nusantara, karakteristik pemersatu bangsa-bangsa Berdaulat. Agama adalah aturan dalam diri manusia agar tidak terus menjadi gundik-gundik penguasa.

Nilai kearifan tradisional dan Religiusitas merupakan sesuatu yang mendasar yang dimiliki masyarakat Tadewa sehingga ide dan gagasan yang muncul selalu menjadi dasar dan pijakan yang baik bagi masyarakat Tadewa. Dengan hadirnya ekonomi kreatif yang sangat mengandalkan sumber daya manusia akan lahir pula ekonomi kreatif yang madani bukan ekonomi kapitalis. Kampung halaman kering kerontang sedangkan dari atas selalu dihujani miliaran, itukah ekonomi kreatif? Ataukah justru itu revolusi mental?

Pemimpin berleha-leha dan terbahak-bahak sedangkan masyarakat mengusap keringat dan batuk berdahak karena SO TOLOMOTI kekeringan (mungkin bukan bagian ekonomi kreatif). (GT/01)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kemelut Ekonomi Kreatif, Desa Tadewa Dalam Pusaran Ekonomi Kreatif"

Post a Comment

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel